Anak dari laki-laki pengembara…

Ibnu Maffaid Alfaris yang artinya anak dari laki-laki pengembara.. Dia adalah anak ke-2 nya bang Nanang, seorang laki-laki pengembara dari jawa barat yang aku kenal di pulau batam, pulau impianku, pulau dimana banyak pendatang mebcari peruntungan, pulau yang sedikit membuka cakrawala hatiku yang saat itu gelap oleh dunia…

Banyak hikmah yang saya ambil dari cerita bang Nanang, dari mulai terjebaknya dia di dunia kriminal sampai ia menemukan titik pencerahan dalam hidupnya..

Mengembara oleh banyak orang untuk merubah nasib, namun pengembara’an yang kulakukan ke pulau batam tanpa tujuan, hanya memenuhi hasrat cita-cita sementara, mencari pengalaman yang sebanyak-banyaknya, walaupun banyak orang bilang saya tidak dapat apa-apa di pulau batam, hanya menghabiskan banyak biaya  saja.. tapi saya mendapatkan pengalaman yang sangat berharga tentang kehidupan dari banyak orang di sana, teman2 kantor yang suka berbagi makanan, teman2 GMP teman nongkrong… Entah mengapa, walaupun setiap malam bahkan setiap malam minggu hanya saya habiskan duduk  di tepi jalan dekat gerobak ketoprak, tapi rasanya lebih baik daripada malam minngu yang saya habiskan di semarang gak jelas… walaupun hanya duduk dan bercerita, tapi semua itu dapat menginspirasi saya dalam kehidupan saya yang akan datang untuk lebih baik lagi..

(bersambung..!!)

Diterbitkan di: on Mei 28, 2009 at 12:55 pm Tinggalkan sebuah Komentar

katika waktu sudah tak terasa..

“Lho, sudah jam 4 tho..? cepet banget sich” tanya seorang teman pada ku, memang sekarang waktu berlalu begitu cepat, seakan tak terasa umur pun beranjak tua, waktu kita kadang kita habiskan hanya utuk belajar dan bekerja, “tapi apa yang kita dapatkan?” tanya hati kecil pada akal yang mulai tak sehat mencerna segala problema kehidupan saat ini..

tanpa sadar kita telah melupakan hakekat manusia itu sendiri (mengapa kita di ciptakan Allah SWT), kalo kita percaya dan yakin akan hal itu, mindset kita atur, mulai menata hati kita, mensyukuri apa pun walau itu cobaan buat kita, kita akan merasa enjoy menjalani kehidupan ini…

Aku nggak tau mengapa aku bisa menulis artikel kayak gini, dan yang pasti sekarang yang aku rasain waktu berjalan begitu cepat seakan tidak memberiku kesempatan untuk menyelesaikan tugas ku (deadline boss..) mungkin ini juga perjalanan hidup kita untuk merubah takdir yang lebih baik, serta mendidik kita untuk senantiasa selalu bersyukur, walaupun sekarang gigi ku sakit dan agak bengkak, kita tetap bersyukur (hehehe… beneran lho) ini biar kita lebih menjaga kebersihan gigi kita, tubuh kita, hati kita, dan semua nya…!!!

walopun tanggal segini belum gajian, ya tetap bersyukur, pasti Allah punya rencana lain buat aku.. :-)

Diterbitkan di: on Mei 2, 2009 at 1:19 pm Tinggalkan sebuah Komentar
Tags:

Ketika hati bicara…

Ketika hati bicara, akalpun tak bisa berkata…

Oh my God, aq gak gau apa yang terjadi pada hatiku ini… hehehe hueekkk.. :p

i think i’m in love, lewat perkenalan pertama yang di kenalin ama mas abadi, aq akhirnya kenal ama Nita, she’s wonder women.. hehehe… kapan aq harus menyatakan aq datang dengan seribu cinta di dada, dengan kasih sayang segudang (norak ah)… yach, jalani aja dulu… semoga Allah SWT memberikan yang terbaik buat diriku, Amin..

Diterbitkan di: on April 26, 2009 at 5:47 am Tinggalkan sebuah Komentar

Bete…

bete bete ah….

Hari ini gw bete buanget, kenepa gw bisa bete ya..?

tau, yang gw rasain cuma dongkol di hati, semoga ini cepat berlalu dan tergantikan semangat Rock yang tak pernah mati (hueeekkkk)

Diterbitkan di: on November 15, 2008 at 2:32 am Tinggalkan sebuah Komentar

Shalat Khusuk…

Suatu siang, Hj. Aliyah (almarhumah) datang ke rumah untuk mengajar mengaji bagi istri saya dan beberapa temannya. Kebetulan hari itu saya sedang ijin kantor untuk masuk siang karena ada suatu keperluan. Kebetulan pula, Beliau sudah beberapa kali ingin bertemu saya untuk menanyakan masalah shalat khusyu’ yang setiap bulan diajarkan ustadz Abu Sangkan di Islamic Center Bekasi, ketika itu. Karena Beliau adalah seorang ustadzah yang sudah banyak mengerti hakikat dan aturan shalat, maka tidak banyak hal lagi yang saya sampaikan. Saya hanya meneruskan apa yang saya ingat dari apa yang pernah disampaikan ustadz Abu Sangkan, terutama bagaimana kita bersikap dan berdialog dengan Allah ketika kita shalat. Tidak lama, hanya sekitar 15 menit, tapi terasa Beliau langsung “nyambung” dengan yang saya sampaikan. Setelah itu, saya ajak Beliau shalat Dhuhur berjamaah. Dalam shalat itu, sengaja saya panjangkan setiap gerakan shalat, terutama rukuk dan sujud. Tak lama setelah selesai shalat dan berdzikir sejenak, dengan badan agak gemetar, Beliau berkata: “Kok cepat betul shalatnya?“. Saya hanya tersenyum sambil melihat ke jam dinding dan mengatakan: “Maaf saya tidak bisa lebih lama lagi karena harus segera ke kantor, tapi tadi kita sholat selama hampir 20 menit“. “Ah … yang betul?”, kata Beliau tak percaya. “Bagaimana rasanya Bu?”, tanya saya. “Kalau nggak karena malu, saya sudah nangis sekarang”, jawabnya.

Pada waktu lainnya, ketika bertugas ke Semarang, saya sempatkan mampir ke rumah mendiang nenek saya. Ketika azan Magrib berkumandang, saya pun pergi ke mesjid As-Salam yang ada di seberang rumah. Oleh imam mesjid tersebut, saya diminta untuk menjadi imam sholat. Mungkin ingin menghormati kedatangan saya di sana. Sebetulnya saya agak segan menerimanya. Selain bacaan Al Qur’an saya kurang fasih, aksennya terlalu “Indonesia”, juga karena saya khawatir tempo sholat saya yang agak lama akan membuat jamaah menjadi tidak nyaman. Apalagi ditambah dengan suasana desa yang sejuk dan tenang. Karena itu sebelum shalat dimulai, saya memberikan sedikit pengantar yang kira-kira kalimatnya seperti dibawah ini.

“Maaf, saya kalau shalat agak lama. Bukan bacaannya yang panjang, hanya sekedar ingin mempraktekkan thuma’maninah. Ketika rukuk, saya tidak buru-buru membaca, tapi saya tundukkan dulu pikiran saya, hati saya dan jiwa saya. Setelah semua terasa tunduk, baru saya memuji Allah – subhaana rabbial azimi wa bihamdihi. Demikian pula ketika sujud. Saya sujudkan pikiran, hati dan jiwa saya. Setelah semua terasa bersujud, merendah kepada Allah, baru saya tinggikan Allah – subhaana rabial a’la wa bihamdihi. Ketika duduk diantara dua sujud, saya sampaikan permohonan saya kepada Allah dengan rendah hati dan satu per satu

“.Lalu saya pun memimpin shalat dengan tenang. Setelah selesai shalat dan berdzikir sejenak, saya melihat beberapa orang di shaf depan masih tetap tertunduk dalam, tak mampu segera bangkit untuk mengubah posisi duduk tahiyyad akhirnya.

Kedua peristiwa tersebut semakin meyakinkan saya bahwa khusyu’ adalah bukan sesuatu yang mustahil bagi kita manusia awam, bahkan suatu yang mudah diperoleh.

Kegagalan meraih khusyu’

Selama ini, kita selalu berpendapat bahwa khusyu’ itu sangat sulit dicapai. Ketika shalat, pikiran sering pergi kemana-mana. Karena itu, lalu muncullah cara mengatasinya yaitu dengan

konsentrasi

. Konsentrasi pikiran seolah-olah telah menjadi kunci mencapai khusyu’. Maka tidak mengherankan jika pelajaran shalat khusyu’ pada umumnya tujukan untuk membantu mengarahkan konsentrasi pikiran, seperti misalnya melihat titik ditempat sujud, menerjemahkan bacaan, menghadirkan Allah, dan lain-lain.

Cara-cara tersebut terlihat meyakinkan, tetapi kenyataannya tidak memberi terlalu banyak manfaat. Melihat tempat sujud membantu agar pandangan kita tidak melirik kekiri dan kanan, tetapi tidak mampu menahan pikiran kita yang suka melompat ke kiri dan kanan. Jika khusyu’ dapat diperoleh dengan mengerti arti bacaannya, ketika saya pergi ke Mekkah, ternyata orang-orang Arab pun terlihat tidak lebih khusyu’ daripada kita. Ada yang matanya melirik ke kiri-kanan, ada yang sibuk merapihkan tutup kepalanya, dan lain-lain. Padahal mereka tentu mengerti arti bacaannya. Mencoba “menghadirkan” Allah, malah menambah kebingungan kita sendiri. Di dalam Al Qur’an dinyatakan, bahwa Allah tidak bisa diserupakan apapun juga (QS Asy Syuura [42] : 11). Jadi apapun yang kita bayangkan mengenai wujud Allah, maka itu pasti salah. Anehnya, cara-cara tersebut, meskipun terbukti gagal sebagai metoda mencapai khusyu’, tetapi terus-menerus diajarkan oleh orang tua ke anaknya, oleh guru ke muridnya, demikian dari generasi ke generasi. Agak konyol memang.

Ketika usaha khusyu’ melalui konsentrasi gagal, maka muncullah persyaratan-persyaratan lain. Ada yang mengatakan, bahwa untuk khusyu’ kita harus suci, bersih dari perbuatan dosa. Persyaratan ini sempat pula membuat saya pesimis, karena ternyata banyak ustad-ustad yang saya kenal secara pribadi sebagai orang yang sholeh, bisa berbahasa Arab, tinggi ilmu agamanya, ternyata mengalami masalah pula dengan shalat khusyu’. Kalau mereka saja yang tinggi ilmu agamanya, banyak berdzikir dan menjaga perbuatannya saja sering tidak khusyu’, bagaimana dengan saya?

Mendadak khusyu’

Mungkin telah banyak usaha dan cara untuk khusyu’ telah kita lakukan tetapi tetap saja tidak berhasil. Anehnya, tiba-tiba kita bisa mendadak khusyu’. Ketika kita tertimpa musibah yang hebat, tiba-tiba saja kita bisa shalat dengan khusyu’ lalu berdoa sambil mengucurkan air mata.

Padahal ketika itu, kita justru lupa dengan segala macam teori mengenai shalat khusyu’. Kita shalat tanpa berkonsentrasi, kita juga lupa memperhatikan titik ditempat sujud, tapi hati dan pikiran kita tidak pernah lepas mengarah ke Allah. Kita tetap belum sepenuhnya memahami arti bacaan dalam bahasa Arab, tapi kita merasa bisa berdialog dengan Allah. Kita lupa untuk “menghadirkan” Allah, tapi malah terasa Allah begitu dekat. Ketika itu, dosa kita tidak lebih sedikit dari sebelumnya, malah mungkin kita baru saja melakukan perbuatan dosa besar sehingga kita sangat menyesal, tapi terasa Allah menyambut shalat dan doa kita. Saat ketika kita tidak menggunakan ilmu khusyu’, saat itu justru kita bisa shalat dengan khusyu’. Keadaan ini bisa terjadi kepada siapa saja, dari mahzab dan aliran apa saja, kepada ulama, orang yang awam ilmu agamanya, cendikiawan, orang yang kurang berpendidikan, orang kaya, orang miskin, bahkan kadang kepada orang yang jarang shalat sekali pun.

Apa gerangan yang membuat itu bisa terjadi?

Salah satunya adalah

sikap dalam menghadap kepada Allah

. Ketika kita tertimpa musibah, maka kita datang kepada Allah dengan merendahkan diri, sungguh-sungguh mengharapkan pertolongan Allah. Kita menjadi tersadar, hanya Allah-lah yang dapat mengatasi masalah kita dan mengabulkan doa kita. Sebaliknya ketika kita sedang jaya, tidak kekurangan suatu apapun, sikap itu sudah tidak ada lagi. Biasanya kita shalat dan doa hanya sekedar untuk menggugurkan kewajiban saja. Seolah-olah Allah-lah yang membutuhkan shalat dan doa kita.

Musibah diturunkan tidak lain agar kita selalu datang dengan merendahkan diri kepada Allah. Sikap yang akan membuat kita khusyu’. Sayang kita selalu lalai terhadap pelajaran yang Allah berikan kepada kita itu, meskipun Allah telah memberikannya berkali-kali.

Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia memohon (pertolongan) kepada Tuhannya dengan

kembali kepada-Nya

; kemudian apabila Tuhan memberikan nikmat-Nya kepadanya lupalah dia akan kemudharatan yang pernah dia berdoa (kepada Allah) untuk (menghilangkannya) sebelum itu.” (QS Az Zumar [39] : 8).

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon (kepada Allah) dengan

tunduk merendahkan diri.

(QS Al An’aam [6] : 42).

Dan tidaklah mereka memperhatikan bahwa mereka

diuji sekali atau dua kali setiap tahun, dan mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak (pula) mengambil pelajaran? (QS At Taubah [9] : 126)

Peka dan tanggap lingkungan

Banyak orang mendefinisikan khusyu’ dengan menggunakan acuan peristiwa Syaidinna Ali ketika kakinya terkena anak panah. Ketika anak panah tersebut akan dicabut Beliau mengerang, tak kuat menahan sakit sehingga para sahabat tak tega mencabutnya. Lalu Beliau shalat dengan khusyu’. Dan ketika shalat itu, anak panah dapat dicabut tanpa Syaidinna Ali merasakan kesakitan.

Peristiwa tersebut sangat popular dan memberikan kesan yang kuat bahwa salah satu tanda shalat yang khusyu’ adalah seseorang tidak lagi merasakan sakitnya luka. Seolah-olah ketika shalat dengan khusyu’, kita bisa lepas dari alam dunia. Tidak merasakan apa-apa dan tidak memikirkan apa-apa lagi. Kesan ini diperkuat lagi oleh cerita tentang satria yang sedang bersemedi didalam kisah perwayangan. Diganggu jin dan gendruwo tidak gentar, dikelilingi binatang buas diam saja, dirayu bidadari cantik tidak tergoda. Tahan tidak makan dan minum berhari-hari lamanya. Apakah shalat khusyu’ harus seperti itu? Siapa orang yang paling khusyu’ shalatnya di dunia ini? Pasti kita sepakat, bahwa Nabi Muhammad SAW adalah orang yang paling khusyu’ shalatnya. Marilah kita melihat bagaimana Rasulullah melakukan shalatnya.

  • Ketika Nabi sedang memimpin shalat, tiba-tiba terdengar tangis anak kecil. Beliau pun mempercepat shalatnya, takut terjadi sesuatu dengan anak itu.
  • Ketika sedang shalat, Nabi melihat ada binatang berbisa mendekat. Beliau pun menghentikan shalat untuk membunuh binatang tersebut, lalu meneruskan kembali shalatnya.
  • Pada suatu saat, setelah selesai shalat berjamaah, Nabi tidak berdzikir sebagaimana biasanya, tetapi segera bergegas pulang. Ketika telah kembali ke masjid, Beliau ditanya oleh sahabatnya mengenai ketergesaan itu. Beliau mengatakan, bahwa ketika shalat Beliau ingat ada sedekah yang belum dibagikan. Karena itu, Beliau segera pulang agar dapat membagi sedekah tersebut secepatnya.
  • Ketika sedang berperang, Nabi mengajarkan shalat khauf

    1. . Shalat berjamaah yang dilakukan dengan cara yang unik karena harus tetap dalam kondisi siaga terhadap serangan musuh.

      Dari beberapa riwayat tersebut, ternyata ketika shalat, Nabi selalu

    peka dan tanggap kepada lingkungannya

    . Beliau tetap mendengar dan melihat apa yang terjadi di sekelilingnya. Lintasan-lintasan pikiran pun tetap ada ketika Beliau shalat. Bahkan jika ada masalah, Beliau mengajarkan kepada kita untuk shalat sunnat 2 rakaat. Artinya, ketika shalat, Beliau bukan melupakan suatu masalah, tetapi malah sengaja membawa masalah tersebut dalam shalatnya untuk disampaikan kepada Allah agar diberikan jalan keluarnya. Apa yang Beliau ajarkan sesuai dengan apa yang diperintahkan di dalam Al Qur’an :

    Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan

    shalat sebagai penolongmu

    , sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS Al Baqarah [2] : 153)

    Khusyu’ menurut Al Qur’an

    Kita sering mengasosiakan khusyu’ dengan kontemplasi, semedi atau meditasi yang biasa dilakukan dalam praktek ritual agama lain. Kita menjadi lupa untuk menggali bagaimana Al Qur’an menjelaskan mengenai khusyu’ itu.

    Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang

    meyakini

    , bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. (QS Al Baqarah [2] 45-46).

    Dari kedua ayat tersebut, dapat disimpulkan khusyu’ bukanlah konsentrasi, tetapi

    keyakinan sedang menghadap Allah

    Keyakinan sangat mempengaruhi sikap seseorang. Orang yang yakin di pohon kamboja ada hantunya, maka dia akan ketakutan jika malam-malam lewat di bawahnya. Sebaliknya, jika orang tersebut berkeyakinan pohon kamboja adalah pohon yang indah, maka orang tersebut justru menemukan kesenangan di bawahnya. Dia akan memungut bunga-bunga yang berguguran untuk diselipkan ditelinga, dibuat rangkaian bunga atau diletakkan mengapung diatas kolam air.

    Sebetulnya, kata yang sering diterjemahkan sebagai “yakin” pada ayat di atas bukanlah berasal kata “yaqin” tetapi dari berasal kata “zon” -

    yazunnuuna. Zon

    sebetulnya lebih sering diterjemahkan sebagai “sangkaan” sebagaimana halnya kata “husnuzon” dan su’uzon”. Ada pula mengartikan sebagai “menduga dengan kuat”. Yang pasti, tingkat keyakinan atau kepastian akan terjadinya sesuatu yang menggunakan kata “zon” berada dibawah kata “yaqin”. Jika kata “yaqin” bisa dikatakan 90%-100% sesuatu itu akan terjadi, maka kata “zon” tingkat kepastiannya mungkin hanya sekitar 70%-90% 1.

    Dalam tata bahasa Arab, berdasarkan waktu berlangsungnya suatu kegiatan, kata kerja terdiri dari 2 bentuk, yaitu

    fi’il maadhi dan fi’il mudhaari’. Fiil maadhi merupakan kata kerja bentuk lampau (past) sedang fiil mudhaari’ adalah kata kerja untuk kegiatan yang sedang berlangsung saat ini (present continuous), masa depan (future) dan juga untuk kegiatan yang berulang-ulang. Kata kerja yang ada pada surat Al Baqarah ayat 46, yaitu “yazunnuu” menggunakan fi’il mudhaari’

    .

    Kata “menemui” (

    mulaaquu) dan “kembali” (raaji’uun) adalah kata pelaku dari kegiatan tersebut (isim fa’il), sama dengan kata “orang-orang yang khusyu’ ” (khaasyi’un

    ). Kata ini tidak menunjukkan kapan waktu kegiatan tersebut dilakukan. Bisa lampau, sekarang ataupun yang akan datang. Kebanyakan terjemahan Al Qur’an dalam bahasa Indonesia, memilih menterjemahkannya “khaasyi’un” (orang yang khusyu’) tanpa menggunakan kata “akan”,

    Bahan Pengajian Ar-Rahman pimpinan ustad Bahtiar Nasir kelas Basic 2.

    sedang kata “muulaquu” (orang yang menemui) dan “raaji’uun” (orang yang kembali) dengan tambahan kata “akan” (masa yang akan datang). Salah satu pertimbangannya “menemui Tuhan” dan “kembali kepada-Nya” hanya mungkin terjadi “nanti” di akherat. Jika demikian, lalu ketika shalat kepada siapa dia menghadap?.

    Dalam beberapa hadits, tampak bahwa Nabi menjaga sikapnya ketika sedang shalat. Beliau berpendapat ketika shalat sesungguhnya orang sedang berhadapan dengan Allah, seperti halnya ketika Beliau mi’raj. Karena itu, Beliau melarang orang yang sedang shalat meludah ke depan, memberi tanda batas tempat shalatnya (sutrah) dan mencegah orang melewatinya.

    Allah Ta’ala tetap (senantiasa) berhadapan dengan hambaNya yang sedang shalat dan jika ia mengucap salam (menoleh) maka Allah meninggalkannya. (HR. Mashobih Assunnah)

    Nabi juga telah mengajarkan caranya agar kita dapat “menemui” dan “kembali” kepada Allah sebagaimana yang dimaksudkan dalam Al Baqarah 46. Petunjuknya dikemas ringkas dalam doa iftitah yang dibaca di awal shalat, setelah

    takbiratul ihram

    . Jadi ketika kita baru memulai shalat, kita selalu diingatkan Beliau tentang apa yang harus dilakukan di dalam shata agar kita menjadi orang yang khusyu’.

    Aku hadapkan wajahku kepada wajah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi, dengan lurus dan berserah diri .

    Sesungguhnya ibadahku, shalatku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan semesta alam ..

    Kita hanya perlu memiliki sangkaan/keyakinan sehingga bisa bersikap untuk menghadapkan diri kita kepada Allah dengansadar dan rela mengembalikan seluruh jiwa raga kita kepada Allah. Karena itu, menurut saya, lebih tepat jika arti khusyu’ dalam Al Baqarah ayat 46 diatas diterjemahkan sebagai :

    Orang-orang yang (bersikap) seolah-olah, mereka sedang menemui Tuhannya, dan seolah-olah mereka sedang kembali (berserah diri) kepada-Nya.

    Kata khusyu’ sendiri disebutkan di dalam Al Qur’an pada 16 ayat 2. Makna bahasanya berkisar pada hina/menunduk, rendah/ tenang, ketakutan, kering/mati, seperti:

    1. Hina dan menunduk

    “Banyak muka pada hari itu

    tunduk terhina

    “. (QS. Al Ghaasyiyaah [88]:2).

    “Pandangannya

    tunduk

    “. QS. (An-Naazi’aat [79]: 9).


    Syaikh Mu’min Al Haddad, Khusyuk Bukan Mimpi

    . Terjemahan Ahmad Syakirin, MA. Penerbit Aqwan, Cetakan III tahun 2008

    “Sambil menundukkan pandangan-pandangan mereka keluar dari kuburan seakan-akan mereka belalang yang beterbangan” QS. (Al Qamar [54]: 7).

    2. Rendah dan tenang

    “. Dan merendahlah semua suara kepada Rabb Yang Maha Pemurah, maka kamu tidak mendengar kecuali bisikan saja”. (QS. (Thaahaa [20]: 108).

    3. Merendahkan dan menundukkan diri

    “Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya

    tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir”. (QS. Al Hasyr [59] : 21).

    “(dalam keadaan) pandangan mereka

    tunduk ke bawah, lagi mereka diliputi kehinaan. Dan sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud, dan mereka dalam keadaan sejahtera”. (QS. Al Qalam [68] : 43).

    4. Kering dan mati

    “Dan diantara tanda-tanda kekuasaaan-Nya (ialah) bahwa engkau lihat bumi

    kering dan gersang, maka apabila Kami turunkan air diatasnya, niscaya ia bergerak dan subur”. (QS. Fushshilat [41]: 39).

    Berdasarkan ayat-ayat tersebut diatas, maka untuk mendapatkan rasa khusyu’ kita hanya perlu bersikap seolah-olah ketika shalat kita sedang berhadapan dengan Allah dan berserah diri kepada Nya. Sikap yang patut kita lakukan ketika menghadap Allah adalah tenang, menundukkan pandangan dan merendahkan diri serendah-rendahnya. Sikap yang sepatutnya dilakukan oleh seorang hamba yang hina dihadapan Tuhan semesta alam, Tuhan Yang Maha Agung. Seperti sikap bumi yang kering kerontang dimusim kemarau mengharapkan pertolongan dari Allah swt dalam bentuk curahan hujan agar dapat kembali subur makmur.

    Siapkan diri untuk khusyu’

    Melalui tulisan ini, saya ingin mengajak Anda untuk memahami teori dasar mengenai shalat khusyu’ dan melatih sikap-sikap yang diperlukan ketika kita shalat. Latihan-latihan yang ada di dalam buku ini sangat penting untuk dilakukan. Rangkaian kata dan kalimat pada tulisan tidak akan mampu menjelaskan dengan baik apa yang saya rasakan. Dengan melakukan latihan, diharapkan Anda dapat merasakan suasana-suasana khusyu’ yang diperoleh dari sikap-sikap tersebut sehingga akan lebih memahami apa yang saya utarakan. Seperti halnya jika kita ingin menjelaskan rasanya durian kepada orang Rusia yang belum pernah makan buah durian sama sekali. Peluang terjadinya perbedaan persepsi sangat besar karena keterbatasan perbendaharaan kata, perbedaan idiom dan perbedaan pengetahuan. Rasa buah durian menjadi mudah dipahami dan tidak ada perbedaan persepsi, jika kita meminta dia untuk ikut memakannya. Karena itu,


    latihan harus dilakukan pada tiap-tiap tahapan sebelum Anda melanjutkan bacaannya

    . Jangan dilewatkan begitu saja. Latihan-latihan tersebut dilakukan di luar shalat. Setelah kita paham bagaimana melakukannya, maka kita tinggal

    membawanya dalam shalat. Tidak ada dalil ataupun teori baru yang melandasi latihan-latihan tersebut. Saya yakin Anda pernah mendengarnya, hanya mungkin jarang dipraktekkan dalam kegiatan shalat.

    Tulisan ini akan lebih berdaya guna jika Anda dapat menyelesaikan seluruh bacaan dan latihannya dalam satu kesempatan sekaligus. Karena itu, lakukanlah persiapan sebelum membaca halaman-halaman berikut ini.

    Luangkan waktu sekitar 2 jam

    , kenakan pakaian yang bersih dan carilah tempat yang tenang sehingga Anda dapat melakukannya dengan baik. Sebaiknya Anda berwudhu dulu, sehingga setelah selesai membaca, Anda dapat langsung mencobanya dengan melakukan shalat sunnah.

    Tulisan ini di kutip dari “shalat khusuk’ itu mudah” by mardibros, dan dapat di download melalui www.shalatcentre.com , semoga bisa berguna bagi semuanya, amin..

    ini gua posting karna gua nge-fans baget ama Ustadz Abu Sangkan yang pas Ramadhan kemaren tampil di MetroTV..

    Diterbitkan di: on Oktober 30, 2008 at 4:18 am Komentar (1)

    Panca Roba…

    Sekarang lagi musimnya panca roba.. dimana musim banyak orang mudah sakit, saperti gw.. bukan penyakit panu kadas atau kurap, melainkan ISPA.. Banyangin aja, di banten ada sekitar 4000 lebih orang terserang penyakit iSPA alias Inspeksi Saluran Pernafasan Akut (kirain cuma atas, taunya akut, gw kan jadi takut), dengan penanganan yang pas harusnya hal ini bisa di cegah, penyakit ini di sinyalir karna lingkungan yang kurang bersih dan daya tahan tubuh yang kurang fit, apalagi di musim panca roba seperti ini, suhu di luar naik turun kagak karuan.. di tambah lagi kerjaan yang menumpuk, but life must go on.. (on_del-on_del).. Bagi temen-temen yang merasakan  gejala sakit tenggorokan, batuk, panas dalam di sertai menggigau kagak karuan, coba periksa ke dokter yang terdekat.. penanganan yang dini lebih baik dari pada pernikahan dini (lho?)

    Diterbitkan di: on Oktober 26, 2008 at 12:42 am Komentar (1)

    jogja…jogja…jogja…

    Seperti iklan di tipi-tipi (Televisi_Red)

     

    Kemaren minggu si slam_et ngajak gw piknik ke jogja, si slamet maunya di panggil “Slam”, jd dalam postingan gw kali ini dia sebagai slam, begini kronologinya, pagi-pagi banget (tapi matahari dah nongol) slam dah sms gw, kalo dia mo ngejemput gw di rumah, dengan gak pake lama gw langsung ngeluncur mandi, belon kelar mandi slam dah nyampe… yach, di suruh cepet2 akhirnya gw kagak sarapan, hehehe.. tapi khan dah minum susu… gw dari rumah dah telat, slam dgn tanpa ampun menggeber tunggangannya, dan akhhirnya kita sampai di PT. Semarang Garment dengan selamat..

     

    karna berangkat kesiangan, acara ke borobudur di tiadakan, hehehe… gw kagak kecewa, karna kita langsung ke pantai kekep dan pantai baron, ya gak kalah ama pantainya tanjung sengkuang yang di bangga2in warga GMP, kayak si dede, sidiq, topan & antony… walopun nyampe sono pas tengah hari, tapi kagak menepis semangat si slam, dengan gaya narsisnya dia mulai memotret dirinya sendiri.. Oya, si slam jg bawa temen yang namanya Risa, gak pake U, nanti malah jadi risau, si risa ini jg gak kalah gokil sama si slam, kedua-duanya mabok naek bis, (apa di kampungnya gak pernah naik bis kali ya..??) Kedua sejoly ini berlomba mengeluarkan isi perutnya, tepatnya dua makhluk beradab ini duduk di sebelah gw, akhirnya pemenangnya risa, karena berhasil mengeluarkan isi perutnya..

    (Bersambung)

    Diterbitkan di: on Oktober 13, 2008 at 5:23 am Tinggalkan sebuah Komentar

    Reuni Grafika

    Kemaren tepatnya tanggal 4 oct’08 Alumni Grafika angkatan gw ngadain reuni, katananya lebih tepat disebut temu kangen, soalnya baru 4 tahun kelulusan.

    Baru 4 tahun gak ketemu, banyak yang berubah dari temen2, ada yang tambah gemuk kayak sapoan ama kepil, ada yang lago hamil karna dihamili temennya sendiri, ada yang tetep gila seperti ari kiting (rambut yang pasti tetep keriting brutal alias gak beraturan), ada juga yang tambah cakep, ada yang tambah kurus seperti budi balung, ada juga yang gak kenal ama gw, apa mungkin karna jenggot gw kali ya, nee khan pemanis buatan yang disinyalir bisa menarik kaum hawa yang sedang kesepian, yang penting bukan nenek2 yang ketarik..  Btw, dari reuni  ini juga  bisa mempertemukan  dua makhluk bersahabat  seperti gw ama budi, dah 4x puasa dan 4x lebaran kagak ketemu, Sekarang dia juga sudah beristri, dan juga bisa mempertemukan dokter ama pasiennya, kayak aang yang curhat melulu soal cewek (“knapa gw slalu di khianati”_kata aang sambil ngelap ingusnya yang balapan “Mang gw salah apa?”_tambah dia) yang salah ternyata bukan dia, ternyata eh ternyata “Tahilalatnya” (maap gak da hubungannya).. Reuni kemaren menunya Ikan bakar ama lele bakar, banyak temen2 yang gak berangkat, mungkin gak tau kalo ada reuni, ada usrusan keluarga, karna lagi di tempat nenek.. mungkin laen kali di kasih undangan kali ya, biar lebih jelas…

    Oya, buat temen2 Alumni SMK 11 Semarang (Grafika) Angkatan 12 yang belon dateng, gw ngucapin minal aidzin wal faidzin mohon maaf lahir dan batin, kmaren khan belon salam-salaman.

    Diterbitkan di: on Oktober 5, 2008 at 1:18 am Komentar (2)

    Lebaran

    Pertama-tama gw mo ngucapin Monal Aidzin Walfaidzin Mohon Maaf lahir & Batin

    Lebaran kali ini terasa berbeda, selain karna si sidik pulang bawa titipan sepatu gw, si dede juga gak mau kalah pulang kampung naek pesawat, selain itu… Grafika sekolahan gw dulu juga mo ngadain reuni, wuih… pasti asyik banget karna gw mo ketemu temen-temen seperjuangan dulu dalam melawan penjajah belanda, seperjuangan sekolah dulu yang dah hampir 4 tahun kagak ketemu, pasti terharu banget ngeliat mahkluk2 aneh sekarang menjadi orang dan sukses… dah kagak sabar nee, gimana kabarnya budi balung, mungkin sekarang balung (tulang_Red) dah kagak keliatan karna dah tertutup daging yang lumayan tebel (Oya, sekarang harga daging lagi naik, apa hubungannya ya?) pasti lucu liat ari kiting dah gak keriting lagi karna dah diribonding, mungin banyak temen2 yang dah berubah mengikuti jaman atau malah kemakan jaman itu sendiri, intinya ” GO GRAFIKA” hehehe..:-)

    Oya, ada cerita lucu waktu mudik kemaren, ini soal si dede yang beol di pesawat, dia sangat banggga sekali karna bisa beol di atas awan, kalo gw ma cuma kencing di atas awan, kalo si sidik mungkin beol diatas air (bukan kali, tepatnya laut), hehehe.. si sidik dah 4 kali lebaran kagak pulang, bayangin aja… padahal bang toyib aja cuma 2 kali lebaran udah di bikinin lagu, apalagi si sidik, mungkin bisa di bikinin pilem india..

    gitu aja bacotan dari gw, buat temen2 yang gw sebutin gw minta maaf yag sebesar-besarnya, kalo ada kata2 gw yang kurang berkenan, gw minta maaf, mumpung masih Lebaran, mulai dari nol lagi..

    Diterbitkan di: on September 30, 2008 at 4:36 pm Tinggalkan sebuah Komentar

    Batuk oh batuk…

    Dah hampir seminggu ini tenggorokan gw bermasalah, entah karena gw makan biji kedondong apa kebanyakan minum es comberan, memang puasa-puasa gini enak buka puasa dengan es, tapi apa di kata, tenggorakan gw bermasalah dan malah jadi “ISPA”.. Busyet, gw kena ISPA, entah apa dosa gw sampai gw kena ISPA (Inspeksi Saluran Pernafasan Atas), dan akhirnya gw batuk dengan sukses, batuk inindah sangat mengganggu kegiatan gw, dari kerja ampe tarawih, yach, gw minta do’a temen-temen biar gw cepet sembuh, dan bisa kembali beraktifitas seperti biasanya, Oya… kita dah dapat setengah jalan di bulan Ramadhan lho, tetep semangat, dan djan sampai bolong..

    Diterbitkan di: on September 15, 2008 at 1:27 am Tinggalkan sebuah Komentar